Aku mempertanyakan eksistensiku (nanti)

13 Apr

Satu pertanyaan yang bener2 mengusik hati, fikir, dan jiwaku (ceilee….!). Tapi beneran ne, setelah kejadian ini ketiga komponen di diriku itu benar2 terusik. Kejadiannya pas hari kemaren, tapi kepikirannya sampe hari berikutnya. Sampe2 aku kurang bisa konsen belajar buat mid. Coz ini (cuman) sekedar ujian formal, tapi yang kufikirkan (menurutku) ujian yang lebih berat.

Emang c sekarang aku masih kuliah, masih kudu mengeduk ilmu2 yang masih belum terkeduk. Tapi pertanyaan ini bener2 mengusik. Apakah nanti ketika aku sudah menjadi seorang “professional” hal seperti ini masih kualami? Lantas bagaimana usaha kakak-kakakku (dari dulu dan hingga kini masih berlangsung) yang memperjuangkan eksistensi “profesi” kami, tentunya akan ‘mubadzir’ jika hasilnya nihil. Sekarang aku tidak mempertanyakan lagi teman seprofesiku (sekali lagi, nanti), tapi aku ingin bertanya pada khalayak luas. Taukah Anda tentang kami? Sedih memang rasanya jika keberadaan kami sebagai seorang professional tidak difahami (sekali lagi difahami bukan diketahui) eksistensinya.
. :: atau ini hanya sebuah hipotesa dari lubuk otakku yang dangkal ini? :: .

Kadang miris juga melihat diri kami sendiri… . :: mataku berkaca-kaca :: .

“setelah kejadian ini ketiga komponen di diriku itu benar2 terusik”
kejadian itu ……….

Beberapa hari yang lalu, aku bersama beberapa temanku sekolah dahulu, datang ke sebuah “perjamuan”. Di akhir acara ketika kami hendak pulang, seorang temanku menanyakan bagaimana mengobati ‘pancingan’ (semacam ganjalan di tenggorokan, biasanya terjadi ketika akan batuk). Dia menanyakan hal itu pada temanku (kakak kelas) yang sudah berprofesi menjadi dokter. Jawabnya adalah dengan obat bernama FG Troches (obat ini terkenal di Indonesia). Kemudian aku bertanya padanya (yang njawab FG Troches), dan pembicaraan kami hanya berdua. Tidak dengan temanku yang lain lagi.

“Kemaren aku dapet info kalo pemakaian FG Troches itu jangan sering-sering, (berarti sekali sekali boleh, ‘kan?) soalnya….” maksud pernyataan itu hanya kutujukan pada kakak kelasku yang udah dokter itu. Bukan pada teman kami yang lain. Tapi jawaban apa yang aku terima?

“Udah, jangan dengerin anak Farmasi.”

. :: sepertinya hatiku tersakiti :: .
Jawabnya sinis sekali?

Di pertemuan yang lalu aku juga mendapat pernyataan yang sama. Aku ingat. “Udah, jangan dengerin anak Farmasi.”
. :: satu air mataku menetes :: .
Entah bercanda atau serius, yang jelas setelah dua kali aku mendengarnya, sakiiiitt banget. Tunggu aja yang ketiga, bagaimana selanjutnya. “Aku ada dimana?” itu yang kutanyakan… “Adakah aku ada?”

# atau perasaan ku saja yang terlalu sensitif? #
. :: dalam hati, air mataku mengalir deras :: .

“…aku pula hanya sebuah electron
yang tetap melintasi orbitalku
sesuai aturan waktu
meski sering terksitasi
aku tetap akan kembali ke keadaan groundstate
supaya inti tetap stabil
ketika radioisotope menembakku
dimana radiasiku?
tak nampak
karena yang terpental hanyalah sinar alfa…”

9 Responses to “Aku mempertanyakan eksistensiku (nanti)”

  1. deking April 14, 2007 at 7:01 pm #

    Eksistensi?Keber-adaan? Yoi…
    Seseorang secara tidak sadar terlalu sering mementingkan keadaan daripada keberadaan…
    PAdahal untuk bisa mencapai suatu keadaan maka kita terlebih dahulu harus mencapai suatu keberadaan…

  2. superkecil April 15, 2007 at 7:01 am #

    keberadaan itu masalah nanti… (walopun ini yang aku takutkan)
    tapi yang pasti padha saat itu…
    sakit… bangett…
    lagi sensi kalee yak?

  3. grandiosa12 April 15, 2007 at 10:01 pm #

    sabar lah.. mungkin bener lagi sensi
    kayakna c gt om

  4. kangguru April 16, 2007 at 3:50 am #

    ada dong kan kata descartes cognito ergo sum

    ada kok kang…
    tapi artinya apa yak?
    hehe🙂

  5. erander April 16, 2007 at 7:53 am #

    Eksistensi. Perlu banyak waktu untuk membicarakannya. Tapi cukup singkat untuk memahaminya jika aku memijam istilah seorang ahli : “Aku berpikir maka aku ada” .. so, yang membuat kita eksis atau tidak adalah diri kita sendiri. Bukan siapa2. Kecuali kita perlu pengakuan. Nah, pengakuan itu kan ciptaan manusia setempat. Artinya, bisa saja seseorang diakui di Indonesia. Tapi belum tentu di Amerika. Siapa yang tidak tahu eksistensi seorang artis di Indonesia. Tapi coba tanya dengan orang Amerika, apakah mereka kenal dengan artis Indonesia tersebut .. apakah kalau mereka bilang tidak kenal berarti eksistensi artis itu tiada?

    tapi pengakuan itu perlu kan bang?
    buat apa qta ada kalu orang lain ga mengakui qta?

  6. cakmoki April 19, 2007 at 9:30 pm #

    wis ah, cup cup cup *ngelap pakai tisu*🙂
    Koq masih ada sisa-sisa feodalisme ya. Saya sependapat dengan 3 bapak di atas, yang lebih penting bukan soal profesi semata, lebih penting lagi adalah profesionalisme saat ini dan nanti. profesi apapun tidak bisa dibanggakan ketika tidak berbuat profesional, ya nggak…
    Sikap profesionalisme saat ini adalah belajar setiap hari, sedangkan nanti, selain belajar tiap hari masih ditambah bekerja serius dan tidak kkn plus bersosialisasi. Ini bukan nasehat lho, obrolan ringan doang😀

    iya cak, bantu kami ya… semoga qta bisa bekerjasama

  7. nha April 24, 2007 at 7:23 am #

    puisinya bagus

  8. superkecil April 24, 2007 at 10:53 am #

    . : : . nha
    nuhun yak…

  9. lexo May 10, 2007 at 8:31 pm #

    eksistensi… hue hueee.

    nulis blog yg bnyak biar ttp eksist…. tul ga??🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: